Pages

Sabtu, 12 Februari 2011

Gendut nggak berarti nggak cantik dong yaa

Putri raja seringkali dicitrakan sebagai perempuan yang (pasti) cantik, (pasti) bertubuh sempurna, dan (pasti) terawat. Mari ingat-ingat cerita putri raja yang antara lain diceritakan dalam dongeng-dongeng HC Andersen: Cinderella, Beauty and The Beast, Snow White dan Sleeping Beauty. Mereka memenuhi syarat-syarat yang harus dimiliki oleh perempuan cantik. Yak, garis bawahi dulu pengertian cantik itu. Cantik yah, cantik.. lho memangnya cantik fisik itu yang seperti apa?

Padahal kita tahu bahwa pengertian cantik, tubuh sempurna dan terawat itu berbeda menurut kebudayaan masing-masing. Misalnya kebudayaan Romawi yang menganggap perempuan cantik adalah yang berbadan gendut. Sayangnya, kebanyakan orang sudah terlanjur terdedah oleh pengertian mainstream bahwa cantik & tubuh sempurna itu adalah: langsing, kulit putih dan berambut lurus. Definisi cantik inilah yang dipopulerkan oleh para produsen kosmetika, (kebanyakan) pelaku industri fesyen dan pelaku industri periklanan. Seringkali perempuan gendut diperlakukan tidak adil, dinomorduakan dan seringkali dijadikan bahan lelucon.
*membaca lagi dari atas* Lah kok nonadita si badut Ancol jadi serius berapi-api gini??
Untuk kasus putri Sultan ini, ada kemungkinan dia tidak mengalami perlakuan tak adil (secara langsung) mengingat statusnya. Siapa sih yang berani mengolok-olok secara terang-terangan, “Woi, gendut lo!”. Bisa-bisa dihajar sama pengawalnya nanti. Tapi pada kenyataannya, diam-diam kita menulis posting di blog sendiri atau berbisik pada teman atau sekedar membatin dalam hati, “Gilee.. putri tapi kok gendut gini!”. Pada dasarnya sama saja tho, melakukan olok-olok terhadap orang gendut walaupun tidak disampaikan secara langsung pada yang bersangkutan. Seakan-akan menjadi gendut adalah suatu kesalahan dari sang putri (karena merusak harapan umum tentang deskripsi putri raja yang harus selalu langsing).
[Lalu apakah nonadita pro atau kontra bahwa gendut =tidak cantik?]
Gue nggak setuju bila gendut dikaitkan semata-mata pada masalah kecantikan. Tidak harus langsing sekedar untuk dianggap cantik. Setiap orang bisa terlihat cantik dengan keadaan tubuh yang berbeda. Karena itu gue mau  minjam istilah : Setiap bunga mekar dengan caranya masing-masing. Tidak perlu menjadi bunga yang serupa untuk sekedar memancarkan keindahannya.
[Baiklah. Tapi gendut itu ‘kan (biasanya) tidak sehat?]
Nah, gue lebih sreg bila kita mengaitkan dengan masalah kesehatan. Memang benar bahwa kegendutan (berlebih) bisa mengundang beberapa jenis penyakit. Misalnya: jantung koroner, darah tinggi. Kurus banget dan gendut banget (dan semua yang kebangetan), sama-sama berpotensi memunculkan penyakit.
Kesehatan memiliki definisi yang lebih jelas dan terukur. Kesehatan memberikan kita alasan yang lebih logis untuk tidak menjadi gendut (dan terlalu kurus tentu saja). Tapi, jangan sering-sering mengaitkan kegendutan dengan kecantikan. Karena sekali lagi, itu tidak adil. Cantik itu pengertiannya terlalu subyektif, bergantung pada selera seseorang dan kultur masyarakat yang berbeda.

0 komentar:

Poskan Komentar